Friday, December 26, 2014

1:47 PM

Dia tak benar-benar mencintaimu,
kau dan aku sama-sama tahu itu.
Dibawakannya kau bunga,
tetapi bukan kesukaanmu.
Digenggamnya jemarimu,
tetapi tidak cukup mesra.
Dia mencium bibir indahmu,
lalu cepat-cepat menyudahinya.
Puaskah kau dengan cinta seperti itu?
Sampai kapan kau terus duduk disitu,
menunggu dia berbalik menginginimu?

Tuesday, December 16, 2014

aku ingin mencintaimu lebih dini, dari secercah sinar yang menghantarkan pagi.
ingin mencintaimu lebih bergairah dibanding panasnya matahari tengah hari.
ingin mencintaimu lebih wangi dibanding bunga yang tengah mekar.
ingin mencintaimu lebih terang dari kerlap cahaya bintang langit malam.
ingin mencintaimu lebih dan lebih..

Saturday, December 13, 2014

Tanpa mengulang



Ada lagu-lagu yang begitu terputar, ingatan langsung terlempar ke sebuah kenangan. Ada tempat-tempat yang begitu didatangi, pikiran langsung melayang ke sebuah kenangan. Ada wewangian yang begitu terhembus, alam bawah sadar langsung memanggil kenangan. Pada dasarnya kenangan itu mengikuti, begitu kita memutuskan berjalan ke depan.
Ada air mata yang mungkin tumpah, menyesali kenangan yang tidak bisa berulang. Ada senyum lega yang mungkin terburai, mensyukuri kenangan yang akhirnya tercipta. Ada pahit, agar tau rasanya manis. Ada manis, agar tidak lupa bahwa yang ada bukan hanya pahit. Kita punya kenangan, untuk bisa mengambil pelajaran pahit manis itu. Untuk bisa menemukan pijakan yang cukup mantap dalam melanjutkan perjalanan. Kemana? Kita juga tidak tahu.
Ada hal-hal yang dibiarkan Tuhan hilang, agar kita menemukan yang baru. Mungkin hal yang lama itu sudah tidak bisa lagi memberi pelajaran, tidak bisa lagi membahagiakan, bukan lagi yang terbaik. Mungkin ada hal baru yang sejak kita belum lahir pun sudah dituliskan oleh Tuhan. Kita akan berpindah. Kita harus bertemu fase demi fase, sebelum sampai pada tujuan akhir. Dan kita harus punya kenangan, mau pahit mau tidak, yang penting kita punya sesuatu untuk dikenang. Untuk dipelajari.
Pada akhirnya semua hanya masalah waktu. Bukan masalah sudah berpengganti atau belum. Pada akhirnya kita butuh jeda, entah panjang entah pendek, untuk menerima bahwa tidak ada kenangan yang bisa berulang. Untuk meyakini bahwa cara Tuhan mengambil kenangan dan tidak mengizinkannya berulang itu berarti bukti bahwa Tuhan sayang. Bahwa kita tidak boleh memakan lagi roti yang sudah berjamur. Bahwa untuk tahu akhir kisah berseri, kita harus membeli seri baru setelah selesai membaca satu seri, karena mengulang-ulang seri yang sama tidak akan membawa pada akhir apa-apa.
Pada akhirnya, luka butuh waktu untuk pulih, dengan atau tanpa obat.
Akan sampai juga waktunya, dimana mengenang itu melegakan. Semacam pengingat syukur, berterimakasih pada setiap kesempatan yang sudah kita temukan. Yang sudah membuat kita kehilangan. Akan sampai juga waktunya kita menikmati setiap mengenang, tidak lagi berharap terulang, dan justru berterimakasih karena sudah hilang sekalian dan tidak kembali lagi. Waktunya akan sampai. Tinggal bagaimana sikap menghadapinya sejak sekarang, mau mulai ikhlas dan realistis atau tidak.
Karena semua kenangan itu pada dasarnya indah. Yang membuatnya berubah rasa hanya masalah tidak bisa berulangnya. Terlalu banyak orang lupa bahwa keindahan itu tidak abadi. Dan yang membuat penerimaan atas fakta bahwa kenangan tidak bisa berulang itu hanyalah ikhlas.
Kita semua mengenang. Setiap hari. Kita semua memelihara kenangan. Sepanjang hidup. Meski kita samasama tahu, tidak ada kenangan yang berulang. Maka apa menyesalinya akan membuat kenangan itu berulang? Menangisinya, mengutuknya, berpatah karenanya, itu akan mengembalikan keadaan? Tidak. Akan. Pernah.
Jangan sampai hanya karema kenangan yang memenjara, gajah dipelupuk mata tak terlihat, sementara semut diujung samudera terlihat. Nanti ketika sadar, menyesalnya berlipat ganda.
Mengenanglah, dan berterimakasihlah atas kesempatan menciptakan kenangan baru untuk masa depan di masa sekarang ini. Syukuri mereka yang menjadi bagian didalamnya, karena kita tidak akan pernah tahu kapan Tuhan akan hilangkan dan menjadikan mereka hanya kenangan juga.
Kita ini bagian dari kenangan yang terus menciptakan kenangan. Kita cuma berpindah dari satu kenangan ke kenangan lain. Maka seharusnya ketika mengenang, kita hanya seperti memutar rekaman perjalanan. Cuma rindu yang boleh ada, bukan sesal, apalagi pilu.

Friday, December 12, 2014

Do I Need A Reason

Today when I saw you
I knew it was just like the first time
When you met my eyes I came close
And I felt like the first time
To hold back my fear
and feel you so near
Ive never been this far before
To hold back my fear
and feel you so near
Im scared of falling into deep this time
Do I need a reason to tell you why
Im singing you this song
Do I need a reason to show you that
I know where I belong
Whenever I am weary I lean on
this feeling that I have
I am so much stronger now
Thankful, yes I am
Today Ill renounce them,
the doubts and the fears Ive been nursing
Ill fly like a moth to the flame
and Ill feel like the first time
To hold back my fear
and let you come near
Ive never been this far before
To hold back my fear
and let you come near
Im afraid of losing and still I go


Tuesday, August 5, 2014

F for fingers.


F for fingers. The limbs that type. The limbs that tweet. The thing that helps me write everything.

   Hai jari-jari mungil,
   Sedang sibuk mengetik ya? Hihi. Ya aku kan lagi pakai kamu untuk nulis surat buat kamu ini. Apacih. Well, saat aku menulis surat ini, aku sudah ketinggalan beberapa hari untuk menulis dan agaknya itu cukup menggagalkan rencana lucuku. Uwuwu bete. *manyun manja* Dengan demikian, aku butuh bantuanmu untuk melanjutkan niatku. Anggap saja surat ini hadiah untukmu.
   Well, sebagai pemilik kalian, aku bersyukur bahwa aku memiliki kalian dalam kondisi normal, sementara di luar sana masih ada yang berharap memiliki kesempurnaan kalian. Sementara masih mensyukuri keberadaan kalian, ada sedikit yang mau aku sampaikan:
  •    Terkadang aku sibuk menggunakan kalian untuk mementingkan diri sendiri. Menyisir, melukis eye-line di pelupuk mata, memakaikan ku pakaian, menaruh uang di saku celana, dan banyak hal lain. Namun, mulai sekarang, bantu aku untuk juga mementingkan orang lain, mengasihi mereka, dengan gerakan-gerakan lembut kalian. Baik tersirat, maupun tidak. 
  •    Seringkali aku membuat kalian mengikuti suasana hatiku yang seenaknya. Mulai menunjuk-nunjuk orang saat dalam amarah, membanting barang-barang, menulis kata-kata jahat dan kotor saat dalam benakku sedang membenci orang lain. Namun, mulai sekarang, bantu aku untuk bisa membuat kalian tetap berbuat hal baik dalam kondisi apapun. Melambaikan tangan lalu ucapkan ‘hi’ pada teman kantor, atau memeluk para sahabat yang sedang bersedih, bahkan sekedar menolong ibu-ibu asing di kereta untuk menaikkan tasnya ke rak bagasi. Mulai dari hal-hal terkecil, ajarkanlah aku cara untuk tetap berbuat baik.
  •    Sepanjang hari aku melakukan banyak aktivitas. Sungguh banyak. Hanya sekian jam aku mengistirahatkan kalian untuk kembali megulang rutinitas yang sama. Di sekian banyak hal yang kulakukan, aku lupa bahwa beberapa hal yang kukerjakan membuat kalian lelah, membuat kalian ingin beristirahat sejenak, dan melakukan hal-hal lain tanpa paksaan oleh pikiran-pikiranku. Maafkan aku untuk hal itu. Karena jelas, aku membutuhkan kalian. Sangat penting, adalah kategori tingkat keberadaan kalian sebagai kebutuhanku. Namun, di sela-sela hari-hariku, bantu aku untuk tetap bersyukur memiliki semua yang sudah kupunya, termasuk kalian. Ajar aku untuk melipat tangan, menyatukan kalian, dan berdoa untuk mensyukuri segala hal. 

Pada akhirnya, aku ingin berterima kasih bahwa sampai detik ini, kalian masih dapat berfungsi dengan sangat baik. Aku mencintai kalian.

The one that loves you all,

Ken J Hafsari 

Tuesday, July 15, 2014

Lalu, inilah engkau

Ia duduk murung di depan cermin. Langit di luar mendung. Angin tanda-tanda akan hujan merasuki tubuhnya setelah melalui celah jendela yang terbuka. Ia duduk murung di depan cermin. 
     Perlahan ia berdiri, kemudian berjalan menuju sudut ruangan. Di laci ketiga sebuah meja tua, sesuatu diambilnya : Sony Walkman tahun 90-an lengkap dengan kaset di dalamnya. Ia menekan tombol bertanda segitiga-sama-kaki-tertidur itu. Ia berjalan kembali ke depan cermin. Ia duduk.
Sebuah lagu berkumandang di kedua kupingnya yang tercantol headset.
Is there anybody going to listen to my story..
All about the girl who came to stay?
She’s the kind of girl you want so much
It makes you sorry
Still, you don’t regret a single day
Ah girl
Lagu The Beatles dengan volume mengimbangi bunyi rintink hujan di luar itu, membuatnya kembali murung. Lelaki ini menatap cermin.
     Perlahan, ia menggapai bayangan tangan di cermin. Menyentuhnya. Menyentuh masa lalunya. Tangan itu merambat seluruh bayangan di cermin dan berubah. Bayangannya berubah menjadi gadis manis berambut pirang terkepang tak beratur, lalu menatapnya tersenyum. Tangan-tangan itu masih bersentuhan. 
     Hujan semakin deras. Bayangan di cermin perlahan hilang. Sama seperti serpihan kenangan yang menempel di dinding-dinding benaknya. Gadis yang pernah menjadi bagian hidupnya, gagal menjadi tulang rusuknya. Gadis dihujani kasihnya semasa muda, menghilang ditelan semua kebohongannya terdahulu. Bahkan kini bayangannya pun kini perlahan lenyap tertutup gumpalan air mata yang mulai perlahan tumpah dari matanya. Sementara hujan di luar masih deras.


***


Matahari yang tak pernah menjadi pagi, Bulan yang tak pernah mengindahkan malam. 
Lentera yang tak pernah menjadi terang, Gelap yang selalu bersembunyi di balik gorden jendela.
Sepatu baru yang kekecilan, Tas punggung yang tak bertali.
Permen karet kadaluarsa, Es krim caramel yang sudah meleleh.

Wednesday, May 28, 2014

Teruntuk kamu.. ( Sahabatku, Cinta Pertamaku, Pahlawanku )

Friday, 16 Mei 2014

Pagi ini seakan runtuh mendengar kabar gempita yang (sangat) tak enak didengar. Kamu, salah satunya, seseorang yang sangat ku sayang, mengejutkan perhatian banyak orang. Dalam sekejap menorehkan sebaris namamu yang mungkin asing dan kini menjadi pusat perhatian. Banyak yang bertanya bagaimana ini bisa terjadi. Tapi kurasa Tuhan menyederhanakan itu menjadi “kehidupan”. Tak ada yang tahu bagaimana hal itu bekerja pada kita begitu juga padamu. Kehadiranmu sangat berarti, canda tawa, riang, semangat dan bagaimana aku bisa tahu semua ini? Cerita. Kisah. Pengalaman dan kerinduan mereka padamu. Itu yang menyimpulkan semuanya tentangmu.
Banyak manusia, banyak cara, tetapi kamu dan seperti inilah Tuhan memintamu. Tak adil mungkin tapi inilah “kehidupan”. Pernah suatu hari mereka bertanya “bagaimana, kapan dan kenapa?” mereka hanya bilang “tak usah dibahas” kepedihan dan kesedihan yang masih meratapi kehidupan tiap insan yang mengenalmu. Ya! Mengenalmu dan pernah jadi bagian dari hidupmu.
Pagi ini seakan runtuh begitu tahu kamu tak ada di sisi. Pagi ini terasa bukan bagian dari hari yang harus kami lalui, begitu tahu kamu pergi bahkan tak ada lagi bersama kami untuk hari-hari ke depan. Kami tahu bahwa kamu (sudah terlebih dahulu) menerima itu dengan kepastian. Ya, surga bersamamu sekarang sobat. Tak ada lagi yang harus dikhawatirkan. Banyak yang berharap lebih tapi Tuhan sudah memutuskan. Banyak yang berdoa tapi tak cukup untuk menghalangi rasa sayang Tuhan yang terlebih amat sempurna untukmu seorang. Kini, kami meminta untuk saling menguatkan dan mengikhlaskan atas apa yang terjadi, kepergianmu! berapa pun banyaknya kata yang telah tertoreh tak akan cukup menggantikan pengalaman berharga yang pernah ada. 
Dan siapa yang sangka, kamu pergi menyusul istri mu yang sudah terlebih dahulu pergi ke surga pada 8 juli 2011 lalu. aku yakin sekarang kalian sedang bercanda gurau bersama lagi dan melihat kami dari surga dengan tersenyum.
Teruntuk kamu yang kami sayangi, kami tahu Tuhan bersamamu sekarang. Kami tahu bahagia menyelimutimu sekarang. Satu permohonan, sisakan tempat untuk kami karena kita akan bersama (lagi) suatu saat nanti (pasti).

Here I am waiting. I’ll have to leave soon. Why am I holding on? We knew this day would come. We knew it all along. How did it come so fast? This is our last night but it’s late and I’m trying not to sleep cause I know when I wake. I will have to slip. And when the daylight comes I’ll have to go. But tonight I’m gonna hold you so close. Cause in the daylight we’ll be on our own but tonight I need to hold you so close.

I never want it to stop, because I don’t wanna start all over. I was afraid of the dark but now it’s all that I want ..”

Note:
For you, Budi S Harun ( Our Beloved Papah ), we know that your smile make us believe that Allah takes you with Him to the paradise .
Im going miss you, Pah. 

Monday, April 28, 2014

titik koma

"Bisakah mulai nyanyikan sebuah lagu untukku? Malam ini akan terasa begitu lengkap ketika kau mulai menaruh jarimu dan memetikkan senar itu untukku. :)"
"Hm, tunggu! Lagu apa yang cocok untuk malam ini?"
"Aku tau!" *membisikkan sesuatu*
"Itu ide yang cemerlang" *tertawa dan mulai mengacak-acak rambutku*
"Ah. Mengapa kau selalu senang membuatku terlihat tampak kacau? Cepat mainkan gitar itu atau aku akan meninggalkanmu sekarang juga!"
"Baiklah baiklah dasar tukang ambek paling handal. Dengarkan lagu ini baik-baik dan jangan terlalu fokus atau kau bisa mati sendu nanti. Hahaha"
"Sial! Cepat.!"

Friday, April 25, 2014

15.57

Aku bersekutu dengan iblis, menemukanmu dan jatuh cinta padamu. dan kusadari itu salah! seharusnya kita bertemu karena Tuhan yang menuntun kita untuk bertemu dan (tak) saling jatuh cinta. Aku pergi dari kehidupan, lari meninggalkan masa lalu karena hidup bukan hanya tentangmu. Aku pergi berusaha tak jatuh di tempat yang sama. Mencoba bangkit tapi terlalu dalam kakiku terantuk. Aku menyerah sekarang. Aku tahu ini takdir tapi bukan ini yang aku inginkan. Aku menyerah (sekarang).

Wednesday, April 2, 2014

Aku

“Aku, si pengagum rahasia, yang tak berani bertatap muka meski hanya untuk menyempatkan diri melihat lesung pipit yang menawan itu.
Aku, si pecinta ulung, yang tak berani mengatakan kata cinta meski kamu berada dalam jarak yang sangat terlihat dari pelupuk mataku.
Aku, sang penakluk, yang tak berani menggengam tanganmu meski hanya untuk sekedar mengajakmu bermain atau bercanda riang bersamaku.
Aku, yang terlihat ceria tapi sangat rapuh dalam jiwa
Jangan pernah sentuh perasaan terdalamku dengan rayu manis kata puitis atau gombalisasi semata.
Aku begitu mudah terbuai hanya dengan pujian dan tipu muslihat yang tak nyata.
Sekejap indah dirasa namun sakit menusuk sanubari asa.
Melampaui segala sakit yang ada ketika kau goreskan setitik luka di hatiku yang masih berwarna merah muda.
Pantaskah kau untuk masih menyandang gelar itu?
Ya! Bagiku kau tetap segalanya.
Pujangga diatas segala pujangga, wahai kamu kekasih pujaan yang lama tak kunjung datang.
Sudah cukup bagiku menanti kehadiranmu menyelamatkan kehidupan percintaanku. Bawalah aku ke ujung pelaminan itu. Agar kita bisa saling mengikat tanpa ragu, menatap mesra dan berpegang erat ..
Mengaku satu di hadapan Tuhan dan hidup bersama sampai maut memisahkan.”

Tuesday, April 1, 2014

16:44

Terkadang ada hal-hal yang cukup disimpan tanpa harus dijadikan cerita atau tulisan atau mungkin sebaliknya.
Entah aku jadi yang mana saat ini.
Mungkin ini salah?
Atau mungkin ini benar?
Entahlah.
Terkadang rindu akan hal-hal sepele itu terjadi lagi tapi memang bukan sekarang,
bukan saat ini.

Friday, March 21, 2014

Cermin



Where are you?

I’m here! Coba buka hatimu. Aku sudah lama disitu. Tak kau sadari itukah?

Mana? Aku sudah membuka hatiku sejak lama tapi yang kutau kau lebih memilih kesana daripada mendiami hatiku.

Aku kesana hanya sementara. Cuma ingin memberimu kesempatan bersama yang lain.

Oh. Singgah sebentar. Nainih! Bahaya!

Karna kau pun juga menyilahkan yang lain singgah dihatimu.

Ya, karna aku tak merasakan hadirmu.

Bukan tak merasakan, tapi kamu terlalu asik dengan yang lain.

Berarti semua salahku?

Salahmu … jadi salahku juga! Bahagiamu, bahagiaku juga

Kadang menyesal itu sudah tak menjadi bagian terpenting  lagi dalam sebuah hubungan.

Iya! Lebih baik memperbaiki daripada menyesali.

Inisih judulnya “kamu bersamaku tapi tetap menoleh padanya” :(

Nah itu tugasmu meyakinkan aku, kalau kamu benar-benar sudah lelah mendatangkan mereka. Jadi aku punya sebuah pondasi yang gak gampang goyah untuk benar-benar bertumbuh bersamamu dikemudian.

Aku juga sudah lelah. Sekarang tugasku berpura-pura bahagia. Sukses bukan?

Pura-pura? what do you want with it? Look you’re so beautiful. Buat apa merugikan diri sendiri.

Still hurt me!!!

NO NO NO! Life must go on! forget him and GO GO GO!

I can’t :(

Menyedihkan sekali. Mari sini aku bantu sembuhkan.

Mirisnya itu akan terus ada melekat karna sudah sampai ke akarnya. Kehabisan cara. Putus asa.

Ya kamu harus cari batu pemecah untuk memecah yang sekarang.

Susah cari yang cocok.

KAMU SUDAH TAU RASANYA, TAPI KAMU MASIH TANYAKAN SEOLAH-OLAH TAK PERNAH TAU RASANYA!

Aku keras kepala!

Iya! Keras sekali. Hey mau sampai kapan???

Sampai aku lelah dengan sendirinya, Lihatlah suatu saat akan ada bendera putih yang besar sekali berkibar.

Lihat dirimu sekarang!! Kasihan sekali kalau hanya diam dalam sebuah cerita yang menguras hati. 

Masih banyak yang sayang sama kamu. Dan dia? Emang sudah pasti sayang?

Nainih namanya to the point!

Sampai kapan siksa diri sendiri?

Still can’t !! :(

Banyak yang mau bantu tapi kamu tidak mau dibantu. Karena kamu lebih senang menyiksa diri sendiri. Kamu bisa keluar dari lobang itu atau dian saja dan mati sia-sia di dalamnya. Segera keluar dari zona itu! Dia akan merasa menang!!

YA! DIA MEMANG TELAH MENANG

Dan kau akan membiarkan itu terus menerus? Kau akan biarkan dirimu menjadi bodoh untuk waktu yang lama?

Mungkin.

Cerita yang masih belum dapat ditebak akhirnya.

Thursday, March 20, 2014

CLOCK




12:46-
Selalu ada saat dimana kamu butuh 24 jam untuk semua hal.
Dan ironisnya hanya akan selalu ada 24 jam dalam hidupmu.
Terkadang pergi adalah jalan keluar terbaik tetapi aku hanya bisa menunggu.
Terkadang tinggal menimbulkan luka tapi ini menyukakan hatiku.
Terkadang sulit hanya imajinasi pikiran dan mudah adalah jawaban sebenarnya.
Terkadang aku mengerti tetapi sebenarnya tidak.
Timbul dan hilang, terkadang hanya muncul di permukaan.
Aku sempat berpikir, apakah ini satu-satunya jalan? Terkadang kita saling menunggu hanya untuk tahu bahwa perjalanan kita tidak searah.
Terkadang rindu tetapi bahkan sang pujangga tak hadir dalam nyata.
Semu ini akankah berakhir atau memang takdirku untuk tetap diam dalam penantian?

Wednesday, February 19, 2014

Past (2013) Thanks for helping me growning

1. Hope for the best, expect the worst.
I admit I faced a few major setbacks this year, especially in the later part of 2013. 
Why? Expectations.
 Expectations kill. 
Sometimes, we somehow think that so long as we give our very best, 
we will get what we hope for. 
Apparently, reality tells us otherwise. 
You know that feeling when you gave your best,
you felt extremely hopeful that it would turn out the way you wanted,
but eventually ended with major disappointments because it turned out otherwise?
That feeling sucks.
But life is like that, full of surprises isnt it?
Hope for the best;
This is to remind myself to continue to be optimistic in life,
to remind myself to not allow setbacks to pull me away from the positive thoughts.
Optimism will not grant me ultimate success for sure,
but I know it gives me the additional moral boost that is much needed at most times,
it urges me to move forward in the direction that I want to head to.
Expect the worst;
That being said, I must always prepare myself to accept failures.
No matter how positive I may be,
there must always be a safety net to fall upon.
& when that happens,
instead of allowing myself to lose heart & give up,
I must learn from the failure & allow it to guide me to the next step towards my goal(s).
Easier said than done, but yes,
it can be done.
"Everyone has diff hopes for life. 
Some live for themselves, some for others. 
But there is no guarantee that our hopes will be realized. 
If the hope can never be realized, should one still be persistent? 
When a hope is realized, it brings happiness. 
The hope may be small but once it is realized, it seems like your life is suddenly full of hope. 
Hope may be intangible, but it is our spiritual support. 
Like air, our bodies cant do w/o air. 
Our hearts wont have the will to go on w/o hope.
We all want to realize our wishes. 
But life is not a bed of roses. 
Sometimes the greater the hope, the greater the disappointment. 
No hope, & there's no pain. 
Hope may lead to pain; but at the same time, 
because there is hope, however the pain, we can endure it. 
So we can fear disappointment or pain, but we cannot lose hope."

2. Live in the moment
This cliche statement, shall be one of my two resolutions for 2014.
(the other one is to start doing voluntary work!!!)
I have always been someone who think alot,
& I always think about my future.
Precisely because I think too much,
sometimes I allow myself to become too emotional 
and worry too much about what will happen in the future,
& I end up neglecting my present,
& forget to enjoy what I already have.
"Why do we always allow the things that we do not have 
to affect how we feel about what we already have?"
The recent Hokkaido trip has truly reminded me to live in the moment.
During my trip, I did not think about work at all;
I did not worry about when my next assignment will come, etc.
It was prolly the first time in this year (or rather the recent years)
that I truly lived in the moment.
Surprisingly,
when I returned from the trip, I received two assignments immediately,
& one of the roles turned out to be one of my most satisfactory roles thus far.
It reminds me that often, the best things come unexpected.
So yes,
for the new year, I will constantly remind myself to live in the moment 
& not allow thoughts about the future to destroy my present.
(but of course, that doesnt mean that I should stop planning for the future.)
3.  To cherish
Yet another cliche phrase..
But this year has indeed reminded me once again to cherish my loved ones.
Amidst all the chaos, setbacks & superficiality,
my loved ones has never failed to be there to keep me sane.
They have been supportive all these while.
There was a period of time when I didn't share much about my work/life with my family & friends,
not because I didn't want to,
but because I was kind of angry and disappointed with myself that 
I have not been achieving what I want to,
& I just felt that I have nothing great to share,
so I ended up not talking as much to them,
even my dad..
I felt bad at the same time,
because I know I have not been spending enough quality time
yet at the same time I was kind of escaping.
I felt small about myself.
I don't really know how to describe that..
but it's prolly to the extent of
"I feel ashamed of myself that I could only do this much" thing.
I knew all along that as my loved ones,
they would never think of me that way,
& in fact, they would be glad to just hear about anything that I have to share.
But I just.. couldn't help wanting to 'escape'.
Until a certain point when I realized that,
"hey, it's time to stop the negativity.
They are here for me, always have been,
& I should cherish.
Cherish them, because life may take any of them away from me anytime,
& I really cannot take it for granted that 
they can be here for me always.

Despite 2013 not going according to how I planned it to be,
I am still glad that it has helped me to grow,
& helped me to see clearer of what I want & do not want in my life.

A mixture of optimism + uncertainty + anticipation + fear + hopeful = my last few thoughts of 2013.
2014?
Let go of the bad things that happened in 2013,
carry the good memories,
& look ahead with positive thoughts for 2014 :)
Hope for the best, expect the worst.

Friday, January 24, 2014

sebab kau hanya mampu menelan waktu dan memuntahkannya lagi sebagai aku

Selamat pagi, Sayang. Usai rindu terkunci dan kecupan
tak bernapas lagi, janji siapa yang akau kau buka?

matahari yang biasa mengintip di ketiak jendela kian jauh
sedang selimutan masih berutang hangat lengan yang kau buang

aku percaya, di suatu tempat di kalendermu itu
ada tanggal yang patah menyisa runcing,
menusuk telunjukmu

waktu serupa tutup botol yang diputar. membuka
sesuatu perlahan-lahan, menyeruak segala rindu
yang tertahan-tahan

kau tentu tahu rindu selalu membuatku jatuh,
lalu mencintaimu


*

kuputarkan untukmu alunan lambada
apa kau mengingat sesuatu, Sayang?
mungkin debar canggungku mengikuti gerak rindu
yang menari-nari

kau perlu tahu, kal keningmu masih bersih
dari retakan-retakan usia, aku duduk menekuri kanvas
mencatat senyuman yang tiba padamu

maka aku kemarikan tangan cat kuku biru dijemariku
aku ingin menari, merayakan rindu
hingga pagi benar-benar kembali sekali lagi,
mendiamkan diammu, dan diamku
mendiamkan kita

dalam riuh
kau menelan waktu-waktu, sementara di tanganku
ssendok pelagi siap kusuapkan
dan kau pergi dengan repihan pesan
"mari saling meninggalkan"

*







suaramu dengung nyamuk yang hendak kutepuk,
mematikan kenangan di telapak tangan



sementara kau menjelma menjadi wangi
menyelipkan diri keringatku
ah, sudahkah kubilang rindu adalah kelemahanku?

sudah, Sayang, tarik saja selimutmu dan tidurlah kembali
dan mimpikan aku sebagai potongan pagi yang mati

hingga kau akan terkejut saat terbangun, melihat pagi
masih menyambutmu dengan rindu yang mengembun di ketiak jendela
pun aku tersenyum padamu disana

sebab kau hanya mampu menelan waktu
dan memuntahkannya lagi sebagai aku

Friday, January 10, 2014

Bagaimana jika..

Bagaimana Jika, Aku beternak kunang-kunang dipipimu?
Agar kala aku menyapa--
sinarnya berpendar daripadanya

Bagaimana jika aku jadi bunga dan kamu jadi udara?
Agar karena kita--
Dunia dipenuhi kupu-kupu sejuta warna

Bagaimana jika aku jadi semut dankamu jadi sekotak roti isi madu?
Agar aku bisa merasakan surga--
Tanpa harus mati lebih dulu

Bagaimana jika, aku jadi aku, dan kamu jadi kamu?
Supaya kelak jika kita menyatu--
Tak ada pura-pura yang akan jadi benalu

Bagaimana jika kita membuat janji untuk bertemu dikehidupan lain kali?
Agar meski kita sekarang terpisah--
Tapi kita punya harapan pasti

Friday, January 3, 2014

Happy New Year 2014

There are time when I regret some things done or not done in the past 

But

 I will eventually convince myself that those  mistakes have moulded me into who I am now.

So in a way, they are still blessings in disguise perhaps.



Happy New Year 2014

More Wealth and Blessing 


Love