“Aku, si
pengagum rahasia, yang tak berani bertatap muka meski hanya untuk
menyempatkan diri melihat lesung pipit yang menawan itu.
Aku, si pecinta ulung, yang tak
berani mengatakan kata cinta meski kamu berada dalam jarak yang sangat
terlihat dari pelupuk mataku.
Aku, sang penakluk, yang tak berani
menggengam tanganmu meski hanya untuk sekedar mengajakmu bermain atau
bercanda riang bersamaku.
Aku, yang terlihat ceria tapi sangat rapuh dalam jiwa
Jangan pernah sentuh perasaan terdalamku dengan rayu manis kata puitis atau gombalisasi semata.
Aku begitu mudah terbuai hanya dengan pujian dan tipu muslihat yang tak nyata.
Sekejap indah dirasa namun sakit menusuk sanubari asa.
Melampaui segala sakit yang ada ketika kau goreskan setitik luka di hatiku yang masih berwarna merah muda.
Pantaskah kau untuk masih menyandang gelar itu?
Ya! Bagiku kau tetap segalanya.
Pujangga diatas segala pujangga, wahai kamu kekasih pujaan yang lama tak kunjung datang.
Sudah cukup bagiku menanti
kehadiranmu menyelamatkan kehidupan percintaanku. Bawalah aku ke ujung
pelaminan itu. Agar kita bisa saling mengikat tanpa ragu, menatap mesra
dan berpegang erat ..
Mengaku satu di hadapan Tuhan dan hidup bersama sampai maut memisahkan.”

0 comment :
Post a Comment