Wednesday, April 2, 2014

Aku

“Aku, si pengagum rahasia, yang tak berani bertatap muka meski hanya untuk menyempatkan diri melihat lesung pipit yang menawan itu.
Aku, si pecinta ulung, yang tak berani mengatakan kata cinta meski kamu berada dalam jarak yang sangat terlihat dari pelupuk mataku.
Aku, sang penakluk, yang tak berani menggengam tanganmu meski hanya untuk sekedar mengajakmu bermain atau bercanda riang bersamaku.
Aku, yang terlihat ceria tapi sangat rapuh dalam jiwa
Jangan pernah sentuh perasaan terdalamku dengan rayu manis kata puitis atau gombalisasi semata.
Aku begitu mudah terbuai hanya dengan pujian dan tipu muslihat yang tak nyata.
Sekejap indah dirasa namun sakit menusuk sanubari asa.
Melampaui segala sakit yang ada ketika kau goreskan setitik luka di hatiku yang masih berwarna merah muda.
Pantaskah kau untuk masih menyandang gelar itu?
Ya! Bagiku kau tetap segalanya.
Pujangga diatas segala pujangga, wahai kamu kekasih pujaan yang lama tak kunjung datang.
Sudah cukup bagiku menanti kehadiranmu menyelamatkan kehidupan percintaanku. Bawalah aku ke ujung pelaminan itu. Agar kita bisa saling mengikat tanpa ragu, menatap mesra dan berpegang erat ..
Mengaku satu di hadapan Tuhan dan hidup bersama sampai maut memisahkan.”

0 comment :

Post a Comment