Selamat pagi, Sayang. Usai rindu terkunci dan kecupan
tak bernapas lagi, janji siapa yang akau kau buka?
matahari yang biasa mengintip di ketiak jendela kian jauh
sedang selimutan masih berutang hangat lengan yang kau buang
aku percaya, di suatu tempat di kalendermu itu
ada tanggal yang patah menyisa runcing,
menusuk telunjukmu
waktu serupa tutup botol yang diputar. membuka
sesuatu perlahan-lahan, menyeruak segala rindu
yang tertahan-tahan
kau tentu tahu rindu selalu membuatku jatuh,
lalu mencintaimu
*
kuputarkan untukmu alunan lambada
apa kau mengingat sesuatu, Sayang?
mungkin debar canggungku mengikuti gerak rindu
yang menari-nari
kau perlu tahu, kal keningmu masih bersih
dari retakan-retakan usia, aku duduk menekuri kanvas
mencatat senyuman yang tiba padamu
maka aku kemarikan tangan cat kuku biru dijemariku
aku ingin menari, merayakan rindu
hingga pagi benar-benar kembali sekali lagi,
mendiamkan diammu, dan diamku
mendiamkan kita
dalam riuh
kau menelan waktu-waktu, sementara di tanganku
ssendok pelagi siap kusuapkan
dan kau pergi dengan repihan pesan
"mari saling meninggalkan"
*
suaramu dengung nyamuk yang hendak kutepuk,
mematikan kenangan di telapak tangan
sementara kau menjelma menjadi wangi
menyelipkan diri keringatku
ah, sudahkah kubilang rindu adalah kelemahanku?
sudah, Sayang, tarik saja selimutmu dan tidurlah kembali
dan mimpikan aku sebagai potongan pagi yang mati
hingga kau akan terkejut saat terbangun, melihat pagi
masih menyambutmu dengan rindu yang mengembun di ketiak jendela
pun aku tersenyum padamu disana
sebab kau hanya mampu menelan waktu
dan memuntahkannya lagi sebagai aku
tak bernapas lagi, janji siapa yang akau kau buka?
matahari yang biasa mengintip di ketiak jendela kian jauh
sedang selimutan masih berutang hangat lengan yang kau buang
aku percaya, di suatu tempat di kalendermu itu
ada tanggal yang patah menyisa runcing,
menusuk telunjukmu
waktu serupa tutup botol yang diputar. membuka
sesuatu perlahan-lahan, menyeruak segala rindu
yang tertahan-tahan
kau tentu tahu rindu selalu membuatku jatuh,
lalu mencintaimu
*
kuputarkan untukmu alunan lambada
apa kau mengingat sesuatu, Sayang?
mungkin debar canggungku mengikuti gerak rindu
yang menari-nari
kau perlu tahu, kal keningmu masih bersih
dari retakan-retakan usia, aku duduk menekuri kanvas
mencatat senyuman yang tiba padamu
maka aku kemarikan tangan cat kuku biru dijemariku
aku ingin menari, merayakan rindu
hingga pagi benar-benar kembali sekali lagi,
mendiamkan diammu, dan diamku
mendiamkan kita
dalam riuh
kau menelan waktu-waktu, sementara di tanganku
ssendok pelagi siap kusuapkan
dan kau pergi dengan repihan pesan
"mari saling meninggalkan"
*
suaramu dengung nyamuk yang hendak kutepuk,
mematikan kenangan di telapak tangan
sementara kau menjelma menjadi wangi
menyelipkan diri keringatku
ah, sudahkah kubilang rindu adalah kelemahanku?
sudah, Sayang, tarik saja selimutmu dan tidurlah kembali
dan mimpikan aku sebagai potongan pagi yang mati
hingga kau akan terkejut saat terbangun, melihat pagi
masih menyambutmu dengan rindu yang mengembun di ketiak jendela
pun aku tersenyum padamu disana
sebab kau hanya mampu menelan waktu
dan memuntahkannya lagi sebagai aku
