Beberapa hari lalu, aku melihat foto sebuket bunga. Bunga Mawar. Foto
itu kulihat dari halaman media sosial yang kerap kali kau kunjungi juga.
Bunga-bunganya bagus. Dirangkai dengan indah, sungguh.
******
Surat ini hanya ingin mencoba mengingatkanku, bahwa tak selamanya yang kuinginkan akan terjadi padaku.
Mungkin di hari-hari yang lalu aku pernah menginginkan kita tetap di kota ibumu ini dan menikmati rintik-rintik musim penghujannya bersama. Pernah ingin kembali piknik, sambil mendengarkan lagu-lagumu yang bisa membuatku bosan, meskipun aku takkan pernah melepaskan headsetnya. Pernah menginginkan tidak sengaja nonton sinetron bersama, lalu melempari televisi dengan sendal atau apalah. Pernah menginginkan bunga itu. Dan semuanya itu tak pernah terjadi padaku.
Akhirnya, aku pernah menunggumu. Pernah sedih karena kau sudah sibuk pada hari-hari barumu. Tapi itu sudah pernah. Dan aku sudah bosan.
Kau pasti punya alasan mengapa berubah. Bila suatu hari nanti bertemu lagi, dan kau mau menjelaskannya, aku pasti mau mendengarkan. Tapi urusan percaya atau tidak, itu belakangan. Kita masih berteman, kan?
Akhirnya aku mau mengingatkanmu: aku pernah menginginkanmu. Lalu akan ada saatnya kau menginginkan orang lain, dan ia tidak akan terjadi padamu. Tidak akan, bahkan sampai doamu yang kesekian.
******
Surat ini hanya ingin mencoba mengingatkanku, bahwa tak selamanya yang kuinginkan akan terjadi padaku.
Mungkin di hari-hari yang lalu aku pernah menginginkan kita tetap di kota ibumu ini dan menikmati rintik-rintik musim penghujannya bersama. Pernah ingin kembali piknik, sambil mendengarkan lagu-lagumu yang bisa membuatku bosan, meskipun aku takkan pernah melepaskan headsetnya. Pernah menginginkan tidak sengaja nonton sinetron bersama, lalu melempari televisi dengan sendal atau apalah. Pernah menginginkan bunga itu. Dan semuanya itu tak pernah terjadi padaku.
Akhirnya, aku pernah menunggumu. Pernah sedih karena kau sudah sibuk pada hari-hari barumu. Tapi itu sudah pernah. Dan aku sudah bosan.
Kau pasti punya alasan mengapa berubah. Bila suatu hari nanti bertemu lagi, dan kau mau menjelaskannya, aku pasti mau mendengarkan. Tapi urusan percaya atau tidak, itu belakangan. Kita masih berteman, kan?
Akhirnya aku mau mengingatkanmu: aku pernah menginginkanmu. Lalu akan ada saatnya kau menginginkan orang lain, dan ia tidak akan terjadi padamu. Tidak akan, bahkan sampai doamu yang kesekian.
