Friday, 16 Mei 2014
Im going miss you, Pah.
Pagi ini seakan runtuh mendengar kabar
gempita yang (sangat) tak enak didengar. Kamu, salah satunya, seseorang
yang sangat ku sayang, mengejutkan perhatian banyak orang. Dalam
sekejap menorehkan sebaris namamu yang mungkin asing dan kini menjadi
pusat perhatian. Banyak yang bertanya bagaimana ini bisa terjadi. Tapi
kurasa Tuhan menyederhanakan itu menjadi “kehidupan”. Tak ada yang tahu
bagaimana hal itu bekerja pada kita begitu juga padamu. Kehadiranmu
sangat berarti, canda tawa, riang, semangat dan bagaimana aku bisa tahu
semua ini? Cerita. Kisah. Pengalaman dan kerinduan mereka padamu. Itu
yang menyimpulkan semuanya tentangmu.
Banyak manusia, banyak cara, tetapi kamu dan
seperti inilah Tuhan memintamu. Tak adil mungkin tapi inilah
“kehidupan”. Pernah suatu hari mereka bertanya “bagaimana, kapan dan
kenapa?” mereka hanya bilang “tak usah dibahas” kepedihan dan kesedihan
yang masih meratapi kehidupan tiap insan yang mengenalmu. Ya! Mengenalmu
dan pernah jadi bagian dari hidupmu.
Pagi ini seakan runtuh begitu tahu kamu tak
ada di sisi. Pagi ini terasa bukan bagian dari hari yang harus kami
lalui, begitu tahu kamu pergi bahkan tak ada lagi bersama kami untuk
hari-hari ke depan. Kami tahu bahwa kamu (sudah terlebih dahulu)
menerima itu dengan kepastian. Ya, surga bersamamu sekarang sobat. Tak
ada lagi yang harus dikhawatirkan. Banyak yang berharap lebih tapi Tuhan
sudah memutuskan. Banyak yang berdoa tapi tak cukup untuk menghalangi
rasa sayang Tuhan yang terlebih amat sempurna untukmu seorang. Kini,
kami meminta untuk saling menguatkan dan mengikhlaskan atas apa yang terjadi, kepergianmu! berapa pun banyaknya kata yang telah
tertoreh tak akan cukup menggantikan pengalaman berharga yang pernah
ada.
Dan siapa yang sangka, kamu pergi menyusul istri mu yang sudah terlebih dahulu pergi ke surga pada 8 juli 2011 lalu. aku yakin sekarang kalian sedang bercanda gurau bersama lagi dan melihat kami dari surga dengan tersenyum.
Teruntuk kamu yang kami sayangi, kami tahu Tuhan bersamamu
sekarang. Kami tahu bahagia menyelimutimu sekarang. Satu permohonan,
sisakan tempat untuk kami karena kita akan bersama (lagi) suatu saat
nanti (pasti).
“Here I am
waiting. I’ll have to leave soon. Why am I holding on? We knew this day
would come. We knew it all along. How did it come so fast? This is our
last night but it’s late and I’m trying not to sleep cause I know when I
wake. I will have to slip. And when the daylight comes I’ll
have to go. But tonight I’m gonna hold you so close. Cause in the
daylight we’ll be on our own but tonight I need to hold you so close.
I never want it to stop, because I don’t wanna start all over. I was afraid of the dark but now it’s all that I want ..”
Note:
For you, Budi S Harun ( Our Beloved Papah ),
we know that your smile make us believe that Allah takes you with Him
to the paradise .Im going miss you, Pah.
