Monday, April 28, 2014

titik koma

"Bisakah mulai nyanyikan sebuah lagu untukku? Malam ini akan terasa begitu lengkap ketika kau mulai menaruh jarimu dan memetikkan senar itu untukku. :)"
"Hm, tunggu! Lagu apa yang cocok untuk malam ini?"
"Aku tau!" *membisikkan sesuatu*
"Itu ide yang cemerlang" *tertawa dan mulai mengacak-acak rambutku*
"Ah. Mengapa kau selalu senang membuatku terlihat tampak kacau? Cepat mainkan gitar itu atau aku akan meninggalkanmu sekarang juga!"
"Baiklah baiklah dasar tukang ambek paling handal. Dengarkan lagu ini baik-baik dan jangan terlalu fokus atau kau bisa mati sendu nanti. Hahaha"
"Sial! Cepat.!"

Friday, April 25, 2014

15.57

Aku bersekutu dengan iblis, menemukanmu dan jatuh cinta padamu. dan kusadari itu salah! seharusnya kita bertemu karena Tuhan yang menuntun kita untuk bertemu dan (tak) saling jatuh cinta. Aku pergi dari kehidupan, lari meninggalkan masa lalu karena hidup bukan hanya tentangmu. Aku pergi berusaha tak jatuh di tempat yang sama. Mencoba bangkit tapi terlalu dalam kakiku terantuk. Aku menyerah sekarang. Aku tahu ini takdir tapi bukan ini yang aku inginkan. Aku menyerah (sekarang).

Wednesday, April 2, 2014

Aku

“Aku, si pengagum rahasia, yang tak berani bertatap muka meski hanya untuk menyempatkan diri melihat lesung pipit yang menawan itu.
Aku, si pecinta ulung, yang tak berani mengatakan kata cinta meski kamu berada dalam jarak yang sangat terlihat dari pelupuk mataku.
Aku, sang penakluk, yang tak berani menggengam tanganmu meski hanya untuk sekedar mengajakmu bermain atau bercanda riang bersamaku.
Aku, yang terlihat ceria tapi sangat rapuh dalam jiwa
Jangan pernah sentuh perasaan terdalamku dengan rayu manis kata puitis atau gombalisasi semata.
Aku begitu mudah terbuai hanya dengan pujian dan tipu muslihat yang tak nyata.
Sekejap indah dirasa namun sakit menusuk sanubari asa.
Melampaui segala sakit yang ada ketika kau goreskan setitik luka di hatiku yang masih berwarna merah muda.
Pantaskah kau untuk masih menyandang gelar itu?
Ya! Bagiku kau tetap segalanya.
Pujangga diatas segala pujangga, wahai kamu kekasih pujaan yang lama tak kunjung datang.
Sudah cukup bagiku menanti kehadiranmu menyelamatkan kehidupan percintaanku. Bawalah aku ke ujung pelaminan itu. Agar kita bisa saling mengikat tanpa ragu, menatap mesra dan berpegang erat ..
Mengaku satu di hadapan Tuhan dan hidup bersama sampai maut memisahkan.”

Tuesday, April 1, 2014

16:44

Terkadang ada hal-hal yang cukup disimpan tanpa harus dijadikan cerita atau tulisan atau mungkin sebaliknya.
Entah aku jadi yang mana saat ini.
Mungkin ini salah?
Atau mungkin ini benar?
Entahlah.
Terkadang rindu akan hal-hal sepele itu terjadi lagi tapi memang bukan sekarang,
bukan saat ini.