Beberapa waktu lalu gue terlibat
pembicaraan singkat dengan seorang teman mengenai rencana pernikahan dia yang
sebentar lagi akan berlangsung. Yang menarik bukan bagaimana, dengan apa,
dimana dan ada apa dalam rencana pernikahan tsb. Tapi lebih kepada pemikiran
yang mengalir dalam sebuah pembicaraan mengenai pernikahannya.
“Ngebayangin abis nikah nanti, bakal gimana yah?” Tanyanya sambil tersenyum.
“Hm.. Yah gak gimana-mana. Banyak
yang berubah sih. Tapi akan semakin matang dan dewasa pastinya dalam segala
hal” Jawab gue singkat.
Yang menarik.. Pertanyaan mengenai
-sehabis nikah nanti bakal gimana yah- nya itu membuat gue jadi berfikir dan
terus berfikir.
Sedari dulu gue bukan orang yang gampang berkomitmen apalagi mengenai sebuah pernikahan. Menikah buat gue adalah sesuatu yang sangat amat penting untuk dipikirkan masak-masak (masak air,nasi,ayam..), yah dalam arti not as simple as the meaning of words MARRIED.
Menikah adalah sebuah komitmen.
Komitmen bagi mereka yang sudah
siap. Bukan bagi mereka yang merasa bisa.
Pertanyaannya adalah seberapa siapkah kita?
Siap bukan hanya sekedar punya angka lebih dari 2 digit ditabungan untuk biaya resepsi. Siap bukan hanya sekedar punya pekerjaan yang lebih mapan dan menghasilkan lebih dari sebelumnya. Siap bukan hanya sekedar punya rumah yang nantinya akan ditinggali bersama dengan keluarga kecil yang baru. Siap bukan hanya sekedar merasa yakin she/he is the only one and the last one that God create and gave for you.
Banyak orang menikah dan membangun rumah tangga hanya karena mereka (merasa) telah siap. Bahkan banyak diantaranya hanya karena mereka (merasa) telah yakin dan sekedar ingin menikah. Oleh sebab itu, banyak juga diantaranya kandas ditengah jalan setelah bertahun berlalu, dan karena masalah klise seperti tidak bahagia, tidak merasa she/he is the only one lagi, atau bahkan karena masalah finansial karena manusia memang tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah mereka capai.
Buat gue secara pribadi, ready is
all about how you plan your (after) life.
Banyak pemikiran yang harus lo
libatkan dalam sebuah perencanaan untuk menjadi siap. Banyak faktor yang
harus lo siapkan dan pertimbangkan.
Menikah itu sekali seumur hidup. Yah kecuali lo berniat punya istri/suami lebih dari satu atau punya niat bercerai, merasakan menjadi duda/janda dan kemudian menikah lagi.
Segala sesuatu yang seumur hidup
cuma sekali artinya tidak akan pernah terulang lagi dalam waktu, kejadian dan
kondisi apapun. It means, ketika lo tidak memanfaatkan moment itu dan
menjadikannya baik, lo sudah kehilangan kesempatan itu.
And i do believe, setiap orang punya
cara menikah ideal dipikiran masing-masing.
Bukan cuma berkata, ya sudah
seadanya saja yang penting kita bersama. Atau, ya sudahlah jalani saja yang ada
didepannya nanti, toh yang penting kita hadapi bersama. Buat gue, ketika
mengatakan ya kita menikah, kebersamaan tidak perlu lagi dibahas. Menikah yah
segala sesuatunya berarti bersama-sama.
Bagaimana rumah tanggamu nanti akan
kamu bangun?
Dengan apa kamu akan membangun?
(please jangan bilang dengan cinta! you are stupid people if you think married is only with love)
Bagaimana rumah tanggamu nantinya akan membahagiakan orang terdekat sekitarmu?
Bagaimana rumah tanggamu akan
membangun pribadi satu sama lain untuk semakin baik?
Bagaimana dan dengan apa rumah
tanggamu akan semakin “besar” dan “kuat”?
Apa yang sudah kamu siapkan dalam 5
tahun kedepan untuk rumah tanggamu?
Apa yang sudah kamu siapkan jika
Tuhan mempercayakan kamu dengan cepat seorang anak sehingga kamu sah menjadi
keluarga kecil yang bahagia?
Bagaimana dan dengan apa kamu akan
menafkahi suami/istrimu lengkap dengan anakmu kelak?
Dan bagaimana bagaimana lainnya yang
sudah harus kamu yakini jawabannya sebelum berkata “ya aku sudah siap menikah”.
Sampai saat ini, gue memang sudah berfikiran untuk menikah. Namun begitu tentu saja masih banyak yang harus dicapai dalam umur yang masih sangat muda dan produktif. Tentu saja tetap banyak yg harus disiapkan, Tentu juga karena masih banyak yang harus diperbaiki dalam diri. Tentu saja karena mengurusi diri sendiri saja masih kacau. Tentu saja karena the right one belum hadir dalam hidup gue (lebih tepatnya belum datang melamar). Dan belum belum lainnya yang masih butuh persiapan dan proses yang panjang.
Yang pasti sebelum menikah harus
sudah bisa membahagiakan orang tua dan diri sendiri. Sudah bisa mencapai
minimum achievement level of my life. Sudah bisa mematangkan diri dalam segala
hal. Hal lain yang tak kalah penting yakni punya tabungan yang cukup. Punya
rumah sederhana untuk keluarga kecil dengan sejuta kebahagiaan. Punya list
after plan yang dibuat bersama si the right one. Sudah tahu dengan apa dan
bagaimana keluarga ini akan semakin bahagia, kuat dan abadi tanpa terpisahkan
oleh segala masalah dan rintangan kedepannya. Sudah tau apa dan bagaimana
mencapai satu demi satu plan after merried.
Dan sudah tau bagaimana cinta bukan
lagi sebuah kata melainkan sebuah detak diantara dua nadi yang kini menjadikan
satu dalam darah kehidupan yang takkan terpisahkan.
Karena menikah untuk bahagia, bukan untuk susah.
:)
