Saturday, August 15, 2020

prosa

 Ia hadir kembali 

mengikatmu dalam kenangan 
membuaimu dalam bayangan 

kamu menangis dalam diam

merintih.


Ia membawa mu lebih jauh 

jiwa mu tak mampu menggapai raga mu 

Ia menarik mu lebih dalam

Nafas mu dipaksa berhenti dalam ruang 



Tuesday, March 3, 2020

Seperti biasa
Matanya tertuju padamu
Diam-diam
Ditundukan pandangan mata nya sesaat kau melihatnya

Matanya kembali menatap mu
Perlahan
Ia kuatkan tatap nya saat kau balas menatapnya

Empat bola mata itu sibuk bekerja
Saling pandang
Seraya dapat berbicara
Kau lemparkan senyum mu yang dibalas gerak canggung khasnya

Ia mulai menghampirimu
Jemari nya mencoba meraih jemari mu
Namun ragu kau sentak
Kau tatap Ia
Sembari tersenyum
Matamu berbinar
“Tak apa, ini tanganku. Raihlah” ujarmu.

Ia tersenyum
Perlahan jemarinya meraih jemari mu
Satu persatu hingga 5 jemari menjadi sepuluh dalam satu genggam.
Ia kembali menatapmu
Tersenyum
Matanya masih sama
Tetap Indah.

Dituntunnya tangan mu menuju pipi nya
Seketika matamu terpejam
Rindu mu memuncak
Hati mu bergejolak
Di daratkan bibirnya dipunggung tanganmu
Ia berikan kecupan disana.
Lembut.

Kau tak kuasa menolak
Ini terlalu menyenangkan, batinmu.

Ia menatapmu
Dan berkata
“Terimakasih karena menyayangiku, terimakasih untuk maafmu”.

Seperti yang sudah-sudah
Kamu hanya terdiam
Dan saat kau ingin berkata
Ia sudah lepaskan genggammu

Ia biarkan mu
Menatap punggung tegap nya
Berjalan meninggalkanmu.

Sunday, March 1, 2020

Kau terdiam 
membeku 
dialirinya tubuhmu dengan airmata 
dibasahi ragamu dengan butir-butir air dingin

Kamar mandi berukuran kecil pun 
terasa terlalu besar 
untuk pesakitanmu 

Kamu ingin sendiri 

menyiksa tubuhmu 
padahal Ia tak layak 
menghukum ragamu 
sedangkan Ia tak salah

Sekali lagi kau hampir menyerah
Ketukan pintunya meragukanmu 
Suaranya menyadarkanmu
Pelukannya kembali menguatkanmu 

Andaikan Dia tak datang 
mungkin kau sudah kalah.

Friday, February 28, 2020

Ku pikir
Kenangan itu telah mati
terkubur bersama raganya

Kupikir
Luka itu telah mengering
Bersama dengan tanah air mawar
yang meresap kedalamnya

Namun
Satu perkara menghidupkan kembali
menyanyat dan semakin menyakitkan

Yang telah mati pun
ternyata tak pernah pergi
Yang telah kering pun
Tak pernah sembuh

Ah Sial.!
Aku hidup dalam masa tergelapku