Saturday, December 13, 2014

Tanpa mengulang



Ada lagu-lagu yang begitu terputar, ingatan langsung terlempar ke sebuah kenangan. Ada tempat-tempat yang begitu didatangi, pikiran langsung melayang ke sebuah kenangan. Ada wewangian yang begitu terhembus, alam bawah sadar langsung memanggil kenangan. Pada dasarnya kenangan itu mengikuti, begitu kita memutuskan berjalan ke depan.
Ada air mata yang mungkin tumpah, menyesali kenangan yang tidak bisa berulang. Ada senyum lega yang mungkin terburai, mensyukuri kenangan yang akhirnya tercipta. Ada pahit, agar tau rasanya manis. Ada manis, agar tidak lupa bahwa yang ada bukan hanya pahit. Kita punya kenangan, untuk bisa mengambil pelajaran pahit manis itu. Untuk bisa menemukan pijakan yang cukup mantap dalam melanjutkan perjalanan. Kemana? Kita juga tidak tahu.
Ada hal-hal yang dibiarkan Tuhan hilang, agar kita menemukan yang baru. Mungkin hal yang lama itu sudah tidak bisa lagi memberi pelajaran, tidak bisa lagi membahagiakan, bukan lagi yang terbaik. Mungkin ada hal baru yang sejak kita belum lahir pun sudah dituliskan oleh Tuhan. Kita akan berpindah. Kita harus bertemu fase demi fase, sebelum sampai pada tujuan akhir. Dan kita harus punya kenangan, mau pahit mau tidak, yang penting kita punya sesuatu untuk dikenang. Untuk dipelajari.
Pada akhirnya semua hanya masalah waktu. Bukan masalah sudah berpengganti atau belum. Pada akhirnya kita butuh jeda, entah panjang entah pendek, untuk menerima bahwa tidak ada kenangan yang bisa berulang. Untuk meyakini bahwa cara Tuhan mengambil kenangan dan tidak mengizinkannya berulang itu berarti bukti bahwa Tuhan sayang. Bahwa kita tidak boleh memakan lagi roti yang sudah berjamur. Bahwa untuk tahu akhir kisah berseri, kita harus membeli seri baru setelah selesai membaca satu seri, karena mengulang-ulang seri yang sama tidak akan membawa pada akhir apa-apa.
Pada akhirnya, luka butuh waktu untuk pulih, dengan atau tanpa obat.
Akan sampai juga waktunya, dimana mengenang itu melegakan. Semacam pengingat syukur, berterimakasih pada setiap kesempatan yang sudah kita temukan. Yang sudah membuat kita kehilangan. Akan sampai juga waktunya kita menikmati setiap mengenang, tidak lagi berharap terulang, dan justru berterimakasih karena sudah hilang sekalian dan tidak kembali lagi. Waktunya akan sampai. Tinggal bagaimana sikap menghadapinya sejak sekarang, mau mulai ikhlas dan realistis atau tidak.
Karena semua kenangan itu pada dasarnya indah. Yang membuatnya berubah rasa hanya masalah tidak bisa berulangnya. Terlalu banyak orang lupa bahwa keindahan itu tidak abadi. Dan yang membuat penerimaan atas fakta bahwa kenangan tidak bisa berulang itu hanyalah ikhlas.
Kita semua mengenang. Setiap hari. Kita semua memelihara kenangan. Sepanjang hidup. Meski kita samasama tahu, tidak ada kenangan yang berulang. Maka apa menyesalinya akan membuat kenangan itu berulang? Menangisinya, mengutuknya, berpatah karenanya, itu akan mengembalikan keadaan? Tidak. Akan. Pernah.
Jangan sampai hanya karema kenangan yang memenjara, gajah dipelupuk mata tak terlihat, sementara semut diujung samudera terlihat. Nanti ketika sadar, menyesalnya berlipat ganda.
Mengenanglah, dan berterimakasihlah atas kesempatan menciptakan kenangan baru untuk masa depan di masa sekarang ini. Syukuri mereka yang menjadi bagian didalamnya, karena kita tidak akan pernah tahu kapan Tuhan akan hilangkan dan menjadikan mereka hanya kenangan juga.
Kita ini bagian dari kenangan yang terus menciptakan kenangan. Kita cuma berpindah dari satu kenangan ke kenangan lain. Maka seharusnya ketika mengenang, kita hanya seperti memutar rekaman perjalanan. Cuma rindu yang boleh ada, bukan sesal, apalagi pilu.

0 comment :

Post a Comment