Tuesday, July 15, 2014

Lalu, inilah engkau

Ia duduk murung di depan cermin. Langit di luar mendung. Angin tanda-tanda akan hujan merasuki tubuhnya setelah melalui celah jendela yang terbuka. Ia duduk murung di depan cermin. 
     Perlahan ia berdiri, kemudian berjalan menuju sudut ruangan. Di laci ketiga sebuah meja tua, sesuatu diambilnya : Sony Walkman tahun 90-an lengkap dengan kaset di dalamnya. Ia menekan tombol bertanda segitiga-sama-kaki-tertidur itu. Ia berjalan kembali ke depan cermin. Ia duduk.
Sebuah lagu berkumandang di kedua kupingnya yang tercantol headset.
Is there anybody going to listen to my story..
All about the girl who came to stay?
She’s the kind of girl you want so much
It makes you sorry
Still, you don’t regret a single day
Ah girl
Lagu The Beatles dengan volume mengimbangi bunyi rintink hujan di luar itu, membuatnya kembali murung. Lelaki ini menatap cermin.
     Perlahan, ia menggapai bayangan tangan di cermin. Menyentuhnya. Menyentuh masa lalunya. Tangan itu merambat seluruh bayangan di cermin dan berubah. Bayangannya berubah menjadi gadis manis berambut pirang terkepang tak beratur, lalu menatapnya tersenyum. Tangan-tangan itu masih bersentuhan. 
     Hujan semakin deras. Bayangan di cermin perlahan hilang. Sama seperti serpihan kenangan yang menempel di dinding-dinding benaknya. Gadis yang pernah menjadi bagian hidupnya, gagal menjadi tulang rusuknya. Gadis dihujani kasihnya semasa muda, menghilang ditelan semua kebohongannya terdahulu. Bahkan kini bayangannya pun kini perlahan lenyap tertutup gumpalan air mata yang mulai perlahan tumpah dari matanya. Sementara hujan di luar masih deras.


***


Matahari yang tak pernah menjadi pagi, Bulan yang tak pernah mengindahkan malam. 
Lentera yang tak pernah menjadi terang, Gelap yang selalu bersembunyi di balik gorden jendela.
Sepatu baru yang kekecilan, Tas punggung yang tak bertali.
Permen karet kadaluarsa, Es krim caramel yang sudah meleleh.

0 comment :

Post a Comment