Dear S.O.S,
yang paling ingin aku katakan kepadamu adalah
betapa aku sangat mencintai dan menghargaimu, dan aku sangat menghargai
hubungan kita.
Hanya ada beberapa hal yang aku ingin kau tahu sebelum aku mengucapkan selamat tinggal.
"Pertama, aku ingin kau tahu bahwa jika bisa menjalani hidup ini lagi bersamamu, aku akan langsung melakukannya.
Terimakasih karena telah begitu sering mendampingiku ketika aku terbukti sangat manusiawi.
Terimakasih
karena telah menerimaku, dengan semua kekuranganku, karena telah
menggenggam tanganku, dan karena telah mencintaiku disaat kesuksesanku
yang menakjubkan dan kegagalanku yang paling menyakitkan.
kau
selalu mendorongku untuk mengikuti kata hatiku, dan ketika aku lupa
untuk mendengarkan, kau akan duduk disampingku dan menempelkan tanganku
di dadaku untuk membantu mengingatkanku.
Kau lalu memberitahuku
bahwa mengikuti hatiku jauh lebih penting daripada kesuksesan sebesar
apa pun, dan bahwa yang paling kau inginkan adalah aku bahagia.
Dan aku selalu tahu bahwa kau berkata yang sebenarnya kepadaku.
"Kehidupan
kita tak selalu bahagia atau mudah. Tapi ketika aku mengenangnya,
bahkan masa-masa yang terasa sulit itu kini merupakan bagian penting
perjalanan kita, untaian integral dari permadani kehidupan kita berdua.
"Aku ingat dimana saat aku tak pernah kunjung terlelap, dan ketika bersama mu aku begitu lelap dalam tidur,
terlelap dalam pelukanmu. hangat sekali disana dan aku terbangun oleh kecupan selamat pagi dari mu.
ah, saat itu sangat tak ingin cepat berlalu.
dan
saat itu kita berkhayal betapa menyenangkannya kalau kita menikah
nanti, setiap malam kita dapat terlelap bersama didalam pelukan satu
sama lain, dan ketika pagi kita terbangun dengan kecupan.
aku
ingat sekali saat kau berkata "sungguh bahagianya bila setiap pagi
terbangun aku melihat wajahmu dan mengecupmu". dan kelak kita punya
anak, dia akan mengacaukan saat seperti ini.
tawa renyah pun
keluar dari bibir kita. yah, impian itu, harapan itu masih sangat jelas
dibenakku sampai saat ini. Tapi mimpi itu hanya tinggal mimpi karena
kamu tak mampu mewujudkannya jadi nyata.
Lucu, saat kita bersama dikala itu seolah mimpi itu hampir nyata, bahkan sudah sangat nyata hanya saja tak mampu diraih.
Sudah tinggal mimpi dan angan.
Ingatkah kamu hari saat mamaku meninggal ?? kamu tahu betapa aku menyayangi beliau, betapa kehilangannya aku saat itu,
aku
bersama nya disaat detik-detik terakhir beliau wafat. dan saat
kuhubungi kamu baru saja samapi dikantor dan aku sangat tidak percaya
kau hadir menemaniku..
Dan yang aku ingat saat itu adalah saat kau
memelukku, lama sekali. menguatkan aku dengan bahumu yang selalu nyaman
untuk aku singgahi.
dan aku ingat sekali saat itu aku tak kunjung
henti menangis, sampai selesai pemakaman aku tak sadarkan diri, dan
ketika terbangun kamu masih disampingku, mengingatkan aku untuk tegar
dan kuat.
kamu terus memelukku lalu berkata " mama sekarang dalam
keadaan baik, dan Mama masih sangat mencintaimu. Semua nya akan
baik-baik saja". Nes, aku tidak tahu apakah karena apa yang kau katakan
atau caramu mengatakannya, tapi hal itu benar-benar membantu.
Selain
hal-hal besar itu, dalam kehidupan kita ada banyak
kesempatan-ratusan-ketika aku mempermasalahkan hal kecil. Kau selalu
hanya tersenyum dan berkata, "Yah, kita selalu paling pandai mengajarkan
apa yang paling harus kita pelajari", dengan lembut mengingatkanku
bahwa aku tak terlepas dari masalah-masalah manusiawi.
Jika diberi kesempatan
mengulangi kehidupanku, aku akan mengurangi waktu bicaraku dan akan
lebih banyak mendengarkan, khususnya mendengarkanmu. Itu sesuatu yang
pasti akan kuubah, dan hal itu akan mudah dilakukan.
Jika
diberi kesempatan mengulangi kehidupanku, Nes, aku akan menghabiskan
jauh lebih sedikit energi untuk menginginkan hal-hal yang tidak
kumiliki, dan jauh lebih banyak energi untuk menikmati apa yang sudah
kumiliki. Itu sesuatu yang sangat jelas, dan ada di depan mata kita
seumur hidup kita-- gagasan bahwa kebahagian tidak disebabkan oleh
memperoleh apa yang kita inginkan, melainkan dari menginginkan apa yang
kita miliki. Kau seperti nya sejak dulu sudah tahu.
Aku menghabiskan separuh kehidupanku mencoba mengajari orang lain
untuk 'hadir' disaat ini, tapi ketika kuingat lagi, ketergesaanku
sendiri menghalangi untuk hadir disaat ini sepenuh mungkin. Padahal dulu
aku sebenarnya bisa lebih bahagia dan bersukacita hanya dengan
mengurangi kecepatan dan menikmati perjalananku. Memangnya aku maulari
kemana? aku dulu selalu ada disini , dan aku masih disini! semuanya
terlihat begitu aneh sekarang, dan begitu jelas.
Itulah salah satu
hal yang paling aku kagumi tentang dirimu, kemampuanmu untuk hadir
disini bersamaku,dan dengan orang lain, dan dengan kehidupan pada
umumnya. Kau tampak bisa 'berada disini pada saat ini' setiap kali kau
bersamaku. Itulah sebabnya aku selalu merasa sangat istimewa di dekatmu.
Ketika sedang bersamamu, aku merasa kau tak ingin berada ditempat lain,
bahkan ketika aku tahu kau punya setumpuk hal yang perlu kaukerjakan.
Dan aku tak pernah merasa kita harus bergegas ke tempat-tempat indah
untuk bersenang-senang. Rasanya selalu menyenangkan untuk sekedar duduk
dan berada di sini bersamamu. Rasanya seperti liburan ketika kau mengenggam tanganku setelah satu hari yang melelahkan dan kita hanaya duduk dan menonton televisi.
Itu sebuah karunia yang sangat besar bagiku, selama 30 bulan itu.
Jika diberi kesempatan mengulangi kehidupanku, aku takkan pernah
dengan begitu mudah dan sering menunda apa yang kutahu--jauh dilubuk
hatiku-- benar-benar ingin kulakukan. Ya Tuhan, seandainya aku tahu
betapa kelirunya itu. Maksudku, dulu kukira aku tahu, sungguh, tapi aku
tetap melakukannya-- aku menunda hal yang benar-benar penting. Aku suka
berkata, 'Sekarang aku benar-benar sedang sibuk', seolah, entah
bagaimana, bulan depan waktu akan secara ajaib menjadi lebih banyak. Aku
termakan ucapanku sendiri, hal-hal yang kuajarkan kepada orang lain
untuk tidak dilakukan.
Kau selalu bersikap bahwa sekaranglah waktu
yang tepat untuk bersenang-senang-- dan bahwa tumpukan pekerjaan serta
telepon yang belum dibalas akan masih ada di sana ketika kita kembali.
Dan kau selalu benar. Jadi, kau pun menggandeng tanganku dan meremasnya
lembut, lalu kita pun pergi. Syukur kepada Tuhan, salah satu dari kita
punya akal sehat.
Yang paling kusuka pada dirimu, Nes, adalah aku tidak pernah--
satu kali pun sejak aku mengenalmu--merasa kau tidak mencintai atau
menerimaku apa adanya. Ketika aku sedang berada di puncak dunia, kau tak
terlalu terkesan, dan ketika aku sedang terpuruk, kau selalu ada disana
untukku, setiap kali. Tak ada yang menggentarkanmu, dan kau tak pernah
berharap aku menjadi sempurna. Kau menerimaku sebagai seorang wanita
dengan kelemahan dan kesulitan seperti yang dimiliki semua orang lain.
Bahkan ketika dunia disekitarku beranggapan semua baik-baik saja,
padahal jauh didalam aku menderita, kau sama sekali tidak ragu; kau
hanya terus mencintaiku. Kau mencintaiku tanpa syarat sedikit pun,
seperti yang kulihat kaulakukan pada orang lai--temanmu, saudara kita
yang lain, dan orang-orang yang sedang berusaha kita tolong. Dicintai
dengan cara itu, oleh orang yang kaucintaii lebih dari siapa pun didunia
ini, adalah sebuah perasaan yang luar biasa.
Aku bahkan tak tahu
harus mengatakan apa tentang hal itu, kecuali bahwa, jika diberi
kesempatan mengulangi kehidupan ini, aku sendiri akan menjadi lebih
seperti itu.
Orang bilang ketika mengenang kehidupan kita, semuanya berkelebat
di depan mata kita. yang kualami tidak persis seperti itu, tapi ada
beberapa hal yang menjadi sangat jelas.
Jika diberi kesempatan
mengulangi kehidupan ini, aku akan bersikap lebih penuh cinta kepadamu
dan kepada semua orang lain-- dan aku tak akan mengharapkan balasan.
Sekarang aku mengerti bahwa makna kehidupan ini adalah cinta, berbagi,
bela rasa, dan kebaikan.
salah satu quote yang aku suka adalah "Kita tak bisa melakukan hal-hal besar didunia ini. Kita hanya bisa melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar"-Ibu theresia.
Aku
sangat bersyukur kita telah menjalani kehidupan kita dengan berbagi
prinsip itu, dan aku tahu bahwa hal-hal kecil bisa menjadi hal-hal besar
ketika hati kita berada ditempat yang tepat.
Aku sangat bangga padamu Nes, dan sangat bersyukur kau adalah
salah satu orang di dunia ini yang hatinya berada ditempat yang tepat.
Aku sudah ratusan kali bertanya kepadamu, 'Sebenarnya, kenapa kita ada disini?'
Dan
disisimu, aku jadi yakin bahwa jawaban pertanyaan itu adalah kita ada
disini untuk melayani orang lain, dan untuk melayani Tuhan. Semuahal
lain nomor dua, karena cinta, kebaikan, bela rasa, kedekatan, dan jiwa
yang murah hati akan abadi selamanya.
Aku tak akan pernah melupakanmu, Nes, walaupun aku akan
bertingkah seperti orang lupa, tapi aku tak akan pernah bisa
melupakanmu. melupakan semua kisah yang sudah terajut selama kurun
waktu 30bulan itu.
Terimakasih karena sudah berbagi kehidupanmu denganku. Sekarang semua nya akan baik-baik saja.
Kutahu
itu untuk diriku, dan khususnya untukmu dan keluargamu.. Kalian semua
punya begitu banyak kebijaksanaan dan begitu banyak peluang masa
depan.mAku sangat mencintai kalian semua. Ini sebuah perjalanan yang
menakjubkan.
Sekarang sudah hampir waktunya bagiku mengucapkan selamat
tinggal, dan aku tahu dalam hatiku ini bukan untuk selamanya. Aku tahu
aku akan melihatmu lagi-- entah kapan, dengan cara tertentu, disuatu
tempat, dalam bentuk tertentu.
Aku ingin menghabiskan sisa waktu
kita dalam keheningan bersamamu. Memelukmu untuk terakhir kali-- sebuah
pelukan yang erat. Jika diberi kesempatan mengulangi kehidupanku, aku
akan menghabiskan jauh lebih banyak waktu dengan memeluk orang-orang,
khususnya kau dan keluarga kita.
Terima kasih, Nes.
Terima kasih karena telah menjadi dirimu.
Aku mencintaimu.
