‘Lima’ buat saya bukan hanya sebuah
nama bilangan yang sederhana, seakan adik-adik di taman kanak-kanak bisa
melapalkannya. ‘Lima’ adalah angka yang menunjukkan jumlah perempuan-perempuan
yang sejak sepuluh tahun lalu berkenalan, menjadi teman baik, menjadi saudara.
Berawal dari kelas Akuntansi yang pada
saat itu menjadi pilihan bersama. Berawal dari sekedar bertanya tentang soal-soal yang diberikan oleh guru dan tertawa
bersama disela-sela waktu istirahat.
Mengenal empat perempuan dengan
karakter berbeda, memang mudah. Namun bisa menerima, menghadapi, memahami
karakter-karakter tersebut selama 10 tahun tidaklah mudah. Sungguh tidaklah mudah.
Saya merasakannya sampai merasa heran sendiri, ‘Sungguh saya telah
melakukannya? Selama 10 tahun?’
Selama10 tahun itu banyak yang
terjadi. Banyak kejadian-kejadian di hidup kami yang memberikan dampak. Banyak
momen yang memberikan kesenangan, kesedihan, dan berbagai rasa lain yang kadang
membuat kami hanya bisa mengerti momen itu dalam diam. Salah satunya momen yang
saya alami sekarang.
Kami berkenalan saat masih berusia 15-16
tahun. Kini kami sudah berusia 25-26 tahun. Awalnya saya berpikir, apapun yang
akan terjadi selama kami berteman, tidak akan mengubah pertemanan kami sampai
kapanpun. Sampai akhirnya tahun-tahun itu datang. Tahun-tahun yang merampas
waktu kami, merampas pikiran kami, merampas hati kami, lalu mulai melonggarkan
tali pertemanan kami, tahun-tahun yang membuat saya mulai berpikir: Apakah kami
akan bertahan? Apakah saya akan bertahan?
Ada yang mengganjal ketika sahabatmu
melakukan hal yang buruk, lalu kau tidak memberi tahunya. Ada yang mengganjal
ketika kau akhirnya tau bahwa temanmu dalam masa sulitnya tetapi kau tidak ada
disisi nya. Ada yang mengganjal ketika kita tidak bisa sebebas dulu meyatakan
isi hati kita saat beban menyelinap.
Hampir dua tahun terakhir, kita
sudah tidak pernah berkumpul bersama, Bahkan untuk saling menyapa melalui
telepon dan pesan singkat pun rasanya sangatlah sulit. Ya kita semua sedang
bergulat dalam hidup kita masing-masing. Aku menghargai itu..
Dua tahun terakhir itu membuatku mulai
kehilangan mereka. Kehilangan pribadi-pribadi yang dulu kukenal baik, namun
sekarang untuk menerka isi pikirannya saja aku sudah kesulitan. Akhirnya aku
hanya bisa melihat mereka dari media social, tentang apa yang mereka lakukan
dan melihat mereka baik saja rasanya tenang. Dan aku kembali berkutat dengan
hidupku. Untuk mencari garis hidup sendiri, tanpa harus kesulitan memikirkan
jalan pikiran dan hidup mereka. Awalnya terasa salah, namun sekarang semua
semakin jelas: hidup menjemput tiap kami, dan harus dijalani.
Sebuah persahabatan tidak terbatas
oleh sebuah nama. Tidak terbatas oleh sebuah grup di media sosial. Tidak
terbatas oleh jumlah foto yang diabadikan. Tidak terbatas oleh waktu dan tempat
maupun jarak.
Pada akhirnya kami berlima juga menjalani hidup kami
masing-masing. Sayangku kepada empat perempuan itu tidak berubah. Tidak akan
pernah berubah.
Hanya saja, aku menyakini diri
sendiri: Orang lain tidak memberiku makan, mereka tidak menghidupiku, tidak
menampungku di tempat tinggal mereka. Namun, kami berbagi udara yang sama,
menjalani waktu yang sama, menginjak tanah yang sama; tanah yang akan mengubur
kami saat hidup sudah berhenti.
Maka aku ingin lebih menghargai
orang lain, pendapat mereka, pikiran mereka, sekecil dan seremeh apapun itu.
Termasuk menghargai waktu yang memang tidak akan pernah kembali.
Kapanpun kalian membaca ini,
percayalah aku sayang kalian. Tuhan memberkati hidup kita semua.

0 comment :
Post a Comment