Friday, September 30, 2016

Clouds are moving. Clocks are ticking. Life is coming.






‘Lima’ buat saya bukan hanya sebuah nama bilangan yang sederhana, seakan adik-adik di taman kanak-kanak bisa melapalkannya. ‘Lima’ adalah angka yang menunjukkan jumlah perempuan-perempuan yang sejak sepuluh tahun lalu berkenalan, menjadi teman baik, menjadi saudara.
Berawal dari kelas Akuntansi yang pada saat itu menjadi pilihan bersama. Berawal dari sekedar bertanya tentang soal-soal yang diberikan oleh guru dan tertawa bersama disela-sela waktu istirahat.


Mengenal empat perempuan dengan karakter berbeda, memang mudah. Namun bisa menerima, menghadapi, memahami karakter-karakter tersebut selama 10 tahun tidaklah mudah. Sungguh tidaklah mudah. Saya merasakannya sampai merasa heran sendiri, ‘Sungguh saya telah melakukannya? Selama 10 tahun?’
Selama10 tahun itu banyak yang terjadi. Banyak kejadian-kejadian di hidup kami yang memberikan dampak. Banyak momen yang memberikan kesenangan, kesedihan, dan berbagai rasa lain yang kadang membuat kami hanya bisa mengerti momen itu dalam diam. Salah satunya momen yang saya alami sekarang.


Kami berkenalan saat masih berusia 15-16 tahun. Kini kami sudah berusia 25-26 tahun. Awalnya saya berpikir, apapun yang akan terjadi selama kami berteman, tidak akan mengubah pertemanan kami sampai kapanpun. Sampai akhirnya tahun-tahun itu datang. Tahun-tahun yang merampas waktu kami, merampas pikiran kami, merampas hati kami, lalu mulai melonggarkan tali pertemanan kami, tahun-tahun yang membuat saya mulai berpikir: Apakah kami akan bertahan? Apakah saya akan bertahan?
Ada yang mengganjal ketika sahabatmu melakukan hal yang buruk, lalu kau tidak memberi tahunya. Ada yang mengganjal ketika kau akhirnya tau bahwa temanmu dalam masa sulitnya tetapi kau tidak ada disisi nya. Ada yang mengganjal ketika kita tidak bisa sebebas dulu meyatakan isi hati kita saat beban menyelinap.
Hampir dua tahun terakhir, kita sudah tidak pernah berkumpul bersama, Bahkan untuk saling menyapa melalui telepon dan pesan singkat pun rasanya sangatlah sulit. Ya kita semua sedang bergulat dalam hidup kita masing-masing. Aku menghargai itu..
 Dua tahun terakhir itu membuatku mulai kehilangan mereka. Kehilangan pribadi-pribadi yang dulu kukenal baik, namun sekarang untuk menerka isi pikirannya saja aku sudah kesulitan. Akhirnya aku hanya bisa melihat mereka dari media social, tentang apa yang mereka lakukan dan melihat mereka baik saja rasanya tenang. Dan aku kembali berkutat dengan hidupku. Untuk mencari garis hidup sendiri, tanpa harus kesulitan memikirkan jalan pikiran dan hidup mereka. Awalnya terasa salah, namun sekarang semua semakin jelas: hidup menjemput tiap kami, dan harus dijalani.


Sebuah persahabatan tidak terbatas oleh sebuah nama. Tidak terbatas oleh sebuah grup di media sosial. Tidak terbatas oleh jumlah foto yang diabadikan. Tidak terbatas oleh waktu dan tempat maupun jarak. 
Pada akhirnya  kami berlima juga menjalani hidup kami masing-masing. Sayangku kepada empat perempuan itu tidak berubah. Tidak akan pernah berubah. 
Hanya saja, aku menyakini diri sendiri: Orang lain tidak memberiku makan, mereka tidak menghidupiku, tidak menampungku di tempat tinggal mereka. Namun, kami berbagi udara yang sama, menjalani waktu yang sama, menginjak tanah yang sama; tanah yang akan mengubur kami saat hidup sudah berhenti.
Maka aku ingin lebih menghargai orang lain, pendapat mereka, pikiran mereka, sekecil dan seremeh apapun itu. Termasuk menghargai waktu yang memang tidak akan pernah kembali.

Kapanpun kalian membaca ini, percayalah aku sayang kalian. Tuhan memberkati hidup kita semua.

0 comment :

Post a Comment