Pagi ini langit teduh, pepohon riuh dengan cericit kenari yang tak mengenal keluh.
Rentangkan kedua tanganmu dan hirup udara dari luar jendela, ada jemari embun yang hendak menyapamu di sana—
menyapamu dengan senyum terindah, yang menghabis segala kata keindahan.
Rentangkan kedua tanganmu dan hirup udara dari luar jendela, ada jemari embun yang hendak memeluk mu di sana—
Memelukmu dengan kehangatan, yang menghabis segala kata rindu.
Rentangkan kedua tanganmu dan hirup udata dari luar jendela, ada jemari embun yang hendak menyentuhmu disana—
Menyentuhmu dengan kecintaan, yang menghabis segala kata puji.
Kau sangat mengetahui makna hadir mu untuk ku, bila saat ini atau nanti kau tak disamping ku
tentu kau pasti tau cara menemuiku yang tak pernah bisa jauh dari mu.
Rentangkan kedua tanganmu dan hirup udara dari luar jendela, ada jemari embun yang hendak menyapamu di sana—
menyapamu dengan senyum terindah, yang menghabis segala kata keindahan.
Rentangkan kedua tanganmu dan hirup udara dari luar jendela, ada jemari embun yang hendak memeluk mu di sana—
Memelukmu dengan kehangatan, yang menghabis segala kata rindu.
Rentangkan kedua tanganmu dan hirup udata dari luar jendela, ada jemari embun yang hendak menyentuhmu disana—
Menyentuhmu dengan kecintaan, yang menghabis segala kata puji.
Kau sangat mengetahui makna hadir mu untuk ku, bila saat ini atau nanti kau tak disamping ku
tentu kau pasti tau cara menemuiku yang tak pernah bisa jauh dari mu.

0 comment :
Post a Comment