Ia berupa bayang yang selalu ada meski tak terlihat
Ia berupa hembusan angin selalu menyegarkan, meski tak teraba.
Ia yang selalu menjadi pendengar celoteh dan keluh kesah ku
Ia yang selalu menjadi pendengar celoteh dan keluh kesah ku
Ia yang selalu ada disaat lelah dan jatuh ku.
Ia yang membiarkan ku bahagia ditempat lain, Ia yang memberiku tempat saat duka ku.
Ia yang tak pernah menyentuh raga ku tapi begitu erat memeluk jiwa ku.
separuh ku.
separuh ku.
Aneh nya
Hati nya mungkin bukan ku, pun begitu denganku.
Namun selalu saja ada pemberat saat kami bernapas dengan jarak
tetapi tidak juga melegakan disaat kami tak berjarak.
tetapi tidak juga melegakan disaat kami tak berjarak.
Ia pernah berkata"Kau hanya terobsesi padaku, karena bagimu aku hanya piala kan?".
bodohnya Ia tak mampu membiarkan ku pergi,
bodohnya Ia tak sedikit pun berhenti peduli.
Meski berjalan tak berdampingan, entah bagaimana Ia tetap menuntunku,
Tidak sepenuhnya karena langkahnya tidak beriringan dengan langkahku,
Ia yang menyatakan ketidakpastiannya tapi tak pernah berhenti berjuang.
Ia yang menyalahkan ada ku tapi tak jua berhenti mengasihi
berjalan waktu.
Ia tetap pada tempatnya
menggantung antara pintu hati dan pikiran.
bodohnya Ia tak mampu membiarkan ku pergi,
bodohnya Ia tak sedikit pun berhenti peduli.
Meski berjalan tak berdampingan, entah bagaimana Ia tetap menuntunku,
Tidak sepenuhnya karena langkahnya tidak beriringan dengan langkahku,
Ia yang menyatakan ketidakpastiannya tapi tak pernah berhenti berjuang.
Ia yang menyalahkan ada ku tapi tak jua berhenti mengasihi
berjalan waktu.
Ia tetap pada tempatnya
menggantung antara pintu hati dan pikiran.
Bertahun-tahun.
Sampai akhirnya
Ia berada dititik harus menyikapi keadaan.
Ia yang sedari awal butuh kepastian sepertinya tak mampu lagi memberi pengakuan.
"Menikahlah denganku?" tanya nya
Ia berada dititik harus menyikapi keadaan.
Ia yang sedari awal butuh kepastian sepertinya tak mampu lagi memberi pengakuan.
"Menikahlah denganku?" tanya nya
tetapi dijawab candaan oleh gadis itu.
"nikah? gimana ? memang sayang?" batinku.
akhirnya
Ia melepaskan diri, oh tidak hati dan jiwanya.
Ia sudah membulatkan keputusannya, walau di akhir Ia masih meragu.
"kalau aku nikah, kamu siapa yang jaga?" suaranya terdengar lirih.
berusaha menunjukan sikap tenang, namun kedua bola mata nya tak pernah berbohong.
Ia Resah!
Ku Hela napas panjang,
ku tatap matanya, nanar.
tersirat,
oh ini akhir kisahnya.
aku tersenyum dan berucap, "aku percaya kamu yakin kalau aku bisa jaga diri, aku sudah janji sama diri sendiri , no more drama and no more cry".
Ku tatap matanya dalam,
"Jadi kamu sekarang berbahagialah krn pada akhirnya ada perempuan yang bersedia menerima pria menyebalkan sepertimu" lanjutku, sedikit menggoda nya dengan maksud menahan tetes airmata yg sedikit lagi mengalir deras dipipi.
Ia tersenyum dan dengan sigap memeluk ku.
pelukan erat dan sangat nyaman.
untuk yang pertama dan terakhir,
akhirnya kurasa bagaimana ada dipeluknya.
------------
"nikah? gimana ? memang sayang?" batinku.
akhirnya
Ia melepaskan diri, oh tidak hati dan jiwanya.
Ia sudah membulatkan keputusannya, walau di akhir Ia masih meragu.
"kalau aku nikah, kamu siapa yang jaga?" suaranya terdengar lirih.
berusaha menunjukan sikap tenang, namun kedua bola mata nya tak pernah berbohong.
Ia Resah!
Ku Hela napas panjang,
ku tatap matanya, nanar.
tersirat,
oh ini akhir kisahnya.
aku tersenyum dan berucap, "aku percaya kamu yakin kalau aku bisa jaga diri, aku sudah janji sama diri sendiri , no more drama and no more cry".
Ku tatap matanya dalam,
"Jadi kamu sekarang berbahagialah krn pada akhirnya ada perempuan yang bersedia menerima pria menyebalkan sepertimu" lanjutku, sedikit menggoda nya dengan maksud menahan tetes airmata yg sedikit lagi mengalir deras dipipi.
Ia tersenyum dan dengan sigap memeluk ku.
pelukan erat dan sangat nyaman.
untuk yang pertama dan terakhir,
akhirnya kurasa bagaimana ada dipeluknya.
------------
Hari ini ku lepaskan Ia

0 comment :
Post a Comment